🌧️ Kehujanan Bareng, Sebuah Cerita yang Tak Terencana

 Langit sore itu awalnya cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Orang-orang masih lalu-lalang seperti biasa, termasuk Raka yang berjalan santai sambil memainkan ponselnya.

Sampai tiba-tiba…

“Bruuumm…” suara petir menggema, dan dalam hitungan detik, hujan turun deras.

“Ah, serius?” gumam Raka kesal.

Ia berlari kecil mencari tempat berteduh, dan matanya tertuju pada halte kecil di pinggir jalan. Saat sampai di sana, ia sadar… ternyata ia tidak sendirian.

Seorang cewek berdiri di ujung halte. Rambutnya sedikit basah, tangannya memeluk tas seperti berusaha menghangatkan diri.

Canggung.

Hanya suara hujan yang mengisi suasana.

Raka melirik sekilas, lalu pura-pura sibuk melihat jalan. Cewek itu juga tampak melakukan hal yang sama. Dua orang asing, terjebak hujan, tanpa tahu harus mulai dari mana.

Beberapa menit berlalu.

“Aneh juga ya…” cewek itu akhirnya membuka suara pelan.

Raka sedikit terkejut. “Apa?”

“Hujannya. Tadi panas banget.”

“Oh… iya sih,” jawab Raka, masih kikuk.

Hening lagi.

Lalu, angin bertiup cukup kencang, membuat air hujan masuk ke dalam halte. Cewek itu mundur sedikit, tapi tetap terkena cipratan air.

Raka menghela napas pelan, lalu melepas jaketnya.

“Nih… pakai aja,” katanya, setengah ragu.

Cewek itu menatapnya, agak kaget. “Nggak apa-apa?”

“Iya… daripada kamu makin basah.”

Ia menerima jaket itu perlahan. “Makasih…”

Untuk pertama kalinya, mereka saling tersenyum.

Suasana mulai berubah.

Obrolan kecil pun dimulai—tentang hujan, tentang jalanan yang tiba-tiba macet, sampai hal-hal random seperti kopi favorit dan tempat nongkrong.

Ternyata… tidak se-canggung itu.

“Sebenernya…” kata cewek itu sambil melihat hujan yang belum reda, “lebih enak kalau kita cari tempat berteduh yang proper ya. Kayak kafe gitu.”

Raka tertawa kecil. “Iya, daripada sok romantis tapi besok demam.”

Mereka saling pandang, lalu tanpa sadar tertawa bareng.

Beberapa detik kemudian, Raka menunjuk ke seberang jalan.

“Ada kafe tuh. Mau lari bareng?”

Cewek itu mengangguk. “Gas?”

“Gas.”

Mereka pun berlari menerobos hujan, kali ini bukan sebagai orang asing lagi.

☕ Epilog

Di dalam kafe, dengan dua gelas minuman hangat di meja, suasana jadi jauh lebih nyaman.

“Ngomong-ngomong… aku Raka,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Cewek itu tersenyum. “Aku Dinda.”

Kadang, cerita sederhana dimulai dari hal yang tidak direncanakan.

Seperti hujan… dan jaket yang dipinjamkan.

Romantis?

Mungkin.

Atau mungkin… itu hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sunan kudus dan asal usul kota kudus

Filmnew

Penunggu Sumur Tua